Pengertian acropobia dan cara mengatasinya

Acrophobia lebih sering disebut phobia ketinggian salah satu jenis
ketakutan yang paling sering terjadi. Banyak yang takut akan posisi yang tinggi. Jika penderita di
tempat yang menjulang tinggi posisi penderita akan merasa gelisah bahkan gugup pada
khalayak umum mungkin ada yang mempunyai sikap berlebihan secara terus menerus.
Pertahanan pada seseorang guna memiliki sikap percaya diri dalam melompat tebing,
mengemudi dalam keadaan sadar di ketinggian menjulang bahkan pada posisi tebing
mendapati jurang. Sikap berbahaya ini dapat berubah sesuai insting, indera perasa disuatu
waktu dan insting memiliki perasaan takut juga ada. Perasaan takut yanng irrasional alami
dapat merugikan atau bahkan menguntungkan. Ketakutan irrasional juga mendapati ketakutan
yang tidak semestinya (jiwa abnormal) namun, jika dalam kondisi takut merasa gelisah dan
sering cemas kini dapat disembuhkan dengan melalui terapi.
Dilansir dari halaman hellosshat.com gejala-gejala takut pada ketinggian atau penyebutan
acrophobia antara lain:

1. Memgalami Vertigo
Vertigo terjadi karena pernah menaiki atau menuruni tempat yang amat tinggi yang terjadi
pada penderita phobia yakni seperti duduk berlutut dan gerakan mencari tempat pegangan
agar tak jatuh. Rasa gelisah yamg besar akan menjadi ketakutan pada diri masing-masing.
2. Menghindari tempat yang tinggi

Pada awalnya memang barani tapi ketika malalui tangga ataupun mendaki serasa cemas akan
hal-hal yang membahayakan. Panik yang terjadi akan mengalami gemetar, pusing, jantung
berdetak cepat, sesak, mati rasa pada tungkai, tubuh menjadi kaku. berkeringat, napas tidak
teratur, gugup, mual bahkan pingsan.
Adapun cara mengatasi acrophobia atau takut ketinggian, meliputi:
1. Sikap mandiri
Sikap yang mempertanggung jawabkan keadaan sendiri, peduli akan diri sendiri memiliki penuh
keberanian secuil harapan. Pemulihan pada kondisi takut ketinggian dampaknya cukup besar di
bagian mental jika terjadi terus menerus danntidak dapat bergerak sendiri pada akhirnya akan
sukar menemukan titik terang. Semua terjadi begitu cepat tapi dengan adanya sikap mandiri
akan menyalurkan pemikiran positip yang beransur menjadi lebih baik. Jadi di sarankan
berusaha terapi sendiri, setidaknya sudah mencoba agar lebih kuat menghadapi nyali sendiri.
Berusaha walaupun pada dasarnya memang sangat kecil kemungkinan dapat bertahan lama
dalam terapinya.
2. Konseling
Apabila keadaan memungkinkan karena banyak teman tapi tidak bisa mengutarakannya
demgam baik sebisa mungkin temui seseorang yang bisa diajak bicara misalnya konseling
dengan demikian apapun yang dikeluhkan akan mendapat hasil pemberian saran dan mativasi
agar berusaha menjadi baik. Seorang psikiater juga mampu memberikan pengobatan melalui
terapi yang dapat menyembuhkan setidaknya memberi waktu dan pemberian energi positif
melalui pemikiran yang jauh lebih mudah memperoleh jiwa berani. Dalam psikiater akan terjaga
pula dengan rahasia penderita sehingga tidak ada yang bisa mengolok-olok. Terapo yang
kemudian menjadi rutin dijadwalkan. Melalui prosedur dilakukannya untuk memperkuat sikap
berani yang cukup.
3. Terapi pemaparan

Pemaparan guna memberikan deskripsi akan acrophobia yang berlangsung lama, mempunyai
pribadi yang mudah takut menjadi hal yang buruk. Cara yang digunakan adalah menemui
dokter agara dilakukannya perawatan yang cukup melalui tanya jawab. Pemeriksaan akan
gejala yang muncul serta mengetahui perubahan yang terjadi beberapa waktu. Kemungkinan
akan mempermudah proses penemuan data secara lengkap.
4. Adanya evaluasi.
Setiap ada pergerakan mencakup ketinggian penderita acrophobia yang melalui tahap tahapan
pemeriksaan memiliki cara sendiri mengatasi namu tidak mudah sebagian orang bisa
mengungkapka. Ketakutan yang terjadi menjadi penyebab awal mula rasa takut akan kejadian
masa lalu yang mememukan titik terjangkitnya acropobia. Semua memiliki pengaruh dan peran
penting masing-masing jika phobia berlanjut dokter akan menyarankan perawatan menggunaka
terapi obat.